1. Aspek Likuiditas
a. Current Ratio
Current ratio merupakan kemampuan untuk memenuhi hutang jangka pendek. Hasil perhitungan laporan keuangan tahun 2005-2009, adalah 1.5541 (2005), 1.3340 (2006), 1.3394 ( 2007), 1.6362 (2008), 1.6564 (2009). Current ratio lebih dari 1 menunjukkan bahwa perusahaan itu baik karena dapat melunasi hutang lancarnya. Berdasarkan perhitungan dari tahun 2005-2006 terjadi penurunan sebesar 0.2201. Penurunan ini disebabkan karena bertambahnya hutang perusahaan daripada kas perusahaan yang terus berkurang, sehingga kesulitan dalam melunasi hutang-hutang perusahaan. Namun dari tahun 2007-2009 mengalami kelebihan kas, sehingga dapat dialokasikan untuk melunasi hutang-hutang perusahaan.
b. Quick Ratio
Quick ratio merupakan kemampuan aktiva lancar yang paling liquid dalam memenuhi hutang jangka pendek (http://caloninvestor.wordpress.com/laporan-analisis-laporan-keuangan-primarindo-asia-infrastructure-tbk/). Hasil perhitungan laporan keuangan tahun 2005-2009, adalah 0.9584 (2005), 0.9380 (2006), 0,9356 (2007), 0,9699 (2008), 1,1075 (2009). Berdasarkan perhitungan tersebut, tahun 2005-2007 terjadi penurunan kemampuan untuk menutupi hutang perusahaan. Penurunan tersebut diakibatkan surat berharga yang memiliki nilai investasi besar pada perusahaan tidak menghasilkan pemasukan yang cukup pada kas perusahaan, sehingga dana yang tersedia tidak cukup untuk memenuhi hutang-hutang jangka pendek. Namun, dari tahun 2008-2009 mengalami peningkatan kemampuan sebesar 0,1376. Hal ini menandakan surat berharga tersebut telah menghasilkan dana yang besar untuk segera dialokasikan terhadap hutang-hutang jangka pendek.
c. Cash Ratio
Cash ratio mengukur sejauh mana perusahaan dapat dengan cepat melequidasi asetnya dan mencakup hutang jangka pendek (http://caloninvestor.wordpress.com/laporan-analisis-laporan-keuangan-primarindo-asia-infrastructure-tbk/). Hasil perhitungan cash ratio dari laporan keuangan tahun 2005-2009, adalah 0,1740 (2005), 0,2259 (2006), 0,1973 (2007), 0,4223 (2008), 0,3832 (2009). Berdasarkan perhitungan tersebut, dalam kurun waktu 4 tahun grafik pergerakan selalu berubah-ubah naik turun. Penurunan tersebut diakibatkan beberapa surat berharga yang dimiliki perusahaan tidak menghasilkan pemasukan yang cukup pada kas perusahaan, sehingga dana yang tersedia tidak cukup untuk memenuhi hutang-hutang jangka pendek. Sebaliknya, apabila terjadi kenaikan, hal ini menandakan beberapa surat berharga tersebut telah menghasilkan dana yang cukup untuk dialokasikan terhadap hutang-hutang jangka pendek.
2. Aspek Efisiensi
a. Average Collection Period
Perkiraan jumlah waktu yang dibutuhkan untuk sebuah perusahaan untuk menagih piutang yang terjadi. Semakin pendek waktunya, semakin efisien untuk sebuah perusahaan dalam menagih piutang (http://caloninvestor.wordpress.com/laporan-analisis-laporan-keuangan-primarindo-asia-infrastructure-tbk/). Hasil perhitungan average collection dari laporan keuangan tahun 2005-2009 menunjukkan 65 hari (2005), 54 hari (2006), 59 hari (2007), 46 hari (2008), 56 hari (2009). Berdasarkan perhitungan tersebut, maka selama kurun waktu 4 tahun rasio ini menunjukkan pergerakan yang tidak stabil dalam artian tiap tahun nilainya naik dan turun. Jika nilainya naik maka perusahaan tersebut mengalami peningkatan piutang dalam proses penjualan, sedangkan jika mengalami penurunan berarti piutang perusahaan tersebut berkurang dalam proses penjualan.
b. Account Receivable Turnover
Angka yang menunjukkan jumlah piutang yang dikumpulkan sepanjang tahun. Angka perputaran piutang yang tinggi menunjukkan kredit yang ketat, sedangkan perputaran piutang rendah berarti banyak terjadi kredit macet (http://caloninvestor.wordpress.com/laporan-analisis-laporan-keuangan-primarindo-asia-infrastructure-tbk/). Hasil perhitungan account receivable turnover dari laporan keuangan tahun 2005-2009 menunjukkan 5,5110 kali (2005), 6,6573 kali (2006), 6,0401 kali (2007), 7,6855 kali (2008), 6,4274 kali (2009). Berdasarkan perhitungan tersebut, maka dari tahun 2005-2006 perusahaan mengalami peningkatan, tetapi sempat melemah pada tahun 2007. Kemudian terjadi peningkatan pada tahun 2008, namun kembali melemah pada tahun 2009. Artinya, jika nilai pada bagian ini menurun berarti piutang perusahaan tersebut masih banyak yang belum dibayar, tetapi sebaliknya jika nilai tersebut meningkat maka piutang perusahaan berkurang dalam artian banyak piutang yang telah dibayar dan masuk ke dalam kas perusahaan.
c. Total Asset Turnover
Mengukur sebarapa baik asset perusahaan yang digunakan untuk menghasilkan pendapatan (http://caloninvestor.wordpress.com/laporan-analisis-laporan-keuangan-primarindo-asia-infrastructure-tbk/). Perhitungan total asset turnover dari laporan keuangan tahun 2005-2009 menunjukkan 1,2490 (2005), 1,2197 (2006), 1,3971 (2007), 1,2213 (2008), 1,1982 (2009). Berdasarkan perhitungan tersebut, maka dari tahun 2005-2006 terjadi penurunan kinerja pada asset perusahaan sebesar 0,0293, tetapi sempat meningkat kembali pada tahun 2007. Namun sampai pada tahun 2009, mengalami penurunan dengan puncaknya sebesar 1,1982. Hal ini mengindikasikan, perusahaan tidak efisien dalam penggunaan semua aktiva yang dimilikinya untuk menghasilkan pendapatan.
d. Inventory Turnover
Menunjukkan perputaran persediaan pertahun yang dilakukan oleh perusahaan (http://caloninvestor.wordpress.com/laporan-analisis-laporan-keuangan-primarindo-asia-infrastructure-tbk/). Hasil perhitungan inventory turnover dari laporan keuangan tahun 2005-2009 menunjukkan 4,9721 (2005), 7,0702 (2006), 7,0329 (2007), 4,2704 (2008), 5,6906 (2009). Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, perusahaan dari tahun 2005-2007 terjadi peningkatan perputaran, karena bertambahnya jumlah penjualan dan persediaan. meskipun pada tahun 2007 sempat mengalami penurunan yang tidak terlalu signifikan. Kemudian diikuti pada tahun 2008 yang kembali merosot menjadi 4,2704. Penurunan ini disebabkan karena tidak seimbangnya persediaan barang di gudang dengan penjualan yang mengakibatkan penumpukan barang di gudang. Selanjutnya, pada tahun 2009 memberikan sinyal positif dengan meningkatnya kinerja menjadi 5,6906. Artinya, pada tahun 2009 persediaan barang perusahaan telah banyak yang terjual (berputar) sehingga pada periode ini perusahaan sangat efektif dalam hal penjualan, sedangkan rentang tahun 2006-2008 kemerosotan tersebut menunjukkan, yaitu perusahaan tidak efisien dalam hal penjualan.
e. Fixed Asset Turnover
Mengukur efisiensi perusahaan dalam menggunakan asset-asetnya untuk menghasilkan pendapatan dan semakin besar angka, semakin baik karena perusahaan akan semakin mudah melakukan perputaran asset (http://caloninvestor.wordpress.com/laporan-analisis-laporan-keuangan-primarindo-asia-infrastructure-tbk/). Hasil perhitungan fixed asset turnover dari laporan keuangan tahun 2005-2009 menunjukkan 3,0831 (2005), 2,6427 (2006), 3,2867 (2007), 2,9355 (2008), 2,4706 (2009). Berdasarkan perhitungan tersebut, dari tahun 2005-2006 terjadi penurunan kinerja sebesar 0,4404, tetapi pada tahun 2007 kembali menguat menjadi 3,2867. Namun, dalam kurun waktu 2 tahun selanjutnya perusahaan mengalami kelesuan kinerja, sehingga terhambat dalam melakukan perputaran asset. Artinya, perusahaan tidak mampu mengoptimalkan asset-assetnya untuk menghasilkan pendapatan perusahaan, padahal asset-asset tersebut berpotensial menghasilkan keuntungan yang besar.
3. Aspek Leverage
a. Debt Ratio
Debt Ratio menunjukkan proporsi hutang perusahaan terhadap asset perusahaan (http://caloninvestor.wordpress.com/laporan-analisis-laporan-keuangan-primarindo-asia-infrastructure-tbk/). Hasil perhitungan debt ratio dari laporan keuangan tahun 2005-2009 adalah 0,6099 (2005), 0,5874 (2006), 0,5550 (2007), 0,5097 (2008), 0,4284 (2009). Debt ratio lebih dari 1 menunjukkan perusahaan memiliki lebih banyak hutang daripada asset, sehingga United Tractors Tbk memiliki hutang yang kecil dari tahun 2005-2009. Penurunan hutang memberikan nilai positif bagi perusahaan, karena investor akan melihat perusahaan memiliki tingkat risiko yang kecil, sehingga sangat kecil kemungkinan untuk perusahaan melakukan gulung tikar.
b. Equity Ratio
Ratio ini mengukur proporsi dari total asset yang dibiayai pemegang saham dan bukan kreditor. Semakin rendah angka rasio ini, menunjukkan perusahaan semakin baik (http://caloninvestor.wordpress.com/laporan-analisis-laporan-keuangan-primarindo-asia-infrastructure-tbk/). Hasil perhitungan equity ratio dari laporan keuangan tahun 2005-2009 adalah 38,61% (2005), 40,85% (2006), 44,09% (2007), 48,72% (2008), 56,73% (2009). Berdasarkan perhitungan equity ratio tersebut, maka dari tahun 2005-2009 perusahaan mengalami pertambahan modal karena perusahaan menggunakan dana lebih besar berasal dari hutang dibandingkan penggunaan dana yang berasal dari modal pemilik perusahaan. Hal ini mengandung risiko yang sangat besar, karena hutang perusahaan lama kelamaan akan semakin banyak dan akan membuat perusahaan semakin merugi.
c. Debt to Equity Ratio
Untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk menutup sebagian atau seluruh hutang-hutangnya dengan dana yang berasal dari modal sendiri. (peni.staff.gunadarma.ac.id/.../ANALISA+KINERJA+BANK_present.ppt ). Semakin rendah angka rasio ini menunjukkan perusahaan semakin baik. Hasil perhitungan debt to equity ratio dari laporan keuangan tahun 2005-2009 menunjukkan 157,97% (2005), 143,80% (2006), 125,87% (2007), 104,61% (2008), 75,51% (2009). Berdasarkan perhitungan tersebut, kondisi perusahaan mengalami penurunan, karena peningkatan jumlah modal perusahaan lebih kecil jumlahnya daripada peningkatan total aktiva perusahaan tersebut. Sehingga, tidak ada dana yang cukup untuk menutup hutang-hutang perusahaan dari modal sendiri.
4. Aspek Profitabilitas
a. Operating Profit Margin
Mengindikasikan seberapa efektif suatu perusahaan mengendalikan biaya dan pengeluaran yang terkait dengan operasi (http://caloninvestor.wordpress.com/laporan-analisis-laporan-keuangan-primarindo-asia-infrastructure-tbk/). Hasil perhitungan operating profit margin dari laporan keuangan 2005-2009 menunjukkan 0,1288 (2005), 0,0975 (2006), 0,1320 (2007), 0.,1490 (2008), 0,1767 (2009). Berdasarkan hasil perhitungan tahun 2005-2009, perusahaan terus mengalami kenaikan kinerja dan hasil. Tingkat penurunan hanya dialami dari tahun 2005-2006, yaitu sebesar 0,0313. Penurunan ini menandakan bahwa laba operasi yang diterima perusahaan peningkatannya tidak sebesar jumlah penjualan. Selanjutnya, dalam kurun waktu 3 tahun, laba operasi tersebut dapat mengimbangi nilai jumlah penjualan sehingga nilai pada operating profit margin bertambah.
b. Net Profit Margin
Menunjukkan keefektifan perusahaan mengkonversikan pendapatan menjadi keuntungan aktual. Semakin tinggi hasil, maka semakin efektif (http://caloninvestor.wordpress.com/laporan-analisis-laporan-keuangan-primarindo-asia-infrastructure-tbk/). Hasil perhitungan net profit margin dari laporan keuangan 2005-2009 menunjukkan 0,0791 (2005), 0,0678 (2006), 0,0822 (2007), 0,0953 (2008), 0,1305 (2009). Berdasarkan perhitungan tersebut, perusahaan hanya mengalami penurunan hasil dari tahun 2005-2006, yaitu sebesar 0,0113. Penurunan ini memperlihatkan bahwa semakin berkurang laba yang diterima dari setiap penjualan perusahaan. Pada 3 tahun kemudian, perusahaan membaik dengan ditunjukkan grafik pergerakan yang meningkat. Kenaikan tersebut diikuti laba yang diterima dari hasil penjualan meningkat.
c. Operating Income Return on Investment (OIROI)
Mengukur tingkat pengembalian modal yang diinvestasikan dan menunjukkan seberapa baik perusahaan menggunakan investasinya untuk menghasilkan keuntungan (http://caloninvestor.wordpress.com/laporan-analisis-laporan-keuangan-primarindo-asia-infrastructure-tbk/). Hasil perhitungan OIROI dari laporan keuangan 2005-2009 menunjukkan 0,1608 (2005), 0,1189 (2006), 0,1844 (2007), 0,1820 (2008), 0,2118 (2009). Berdasarkan hasil perhitungan tahun 2005-2009, rasio OIROI menggambarkan grafik yang berfluktuatif. Oleh sebab itu, keefektifan perusahaan naik turun. Sebagai contoh, dari tahun 2005-2006 perusahaan mengalami penurunan nilai, yang berarti laba operasi yang didapatkan oleh perusahaan hanya mengalami kenaikan yang kecil dibandingkan dengan kenaikan jumlah total asset perusahaan tersebut. Sedangkan dari tahun 2008-2009 perusahaan mengalami kenaikan yang menandakan bahwa laba operasi perusahaan telah dapat mengimbangi kenaikan jumlah total asset perusahaan tersebut.
d. Return on Equity (ROE)
ROE mengukur profitabilitas perusahaan dengan mengungkapkan seberapa besar sebuah perusahaan menghasilkan laba dengan dana pemegang saham yang telah diinvestasikan ke perusahaan (http://caloninvestor.wordpress.com/laporan-analisis-laporan-keuangan-primarindo-asia-infrastructure-tbk/). Hasil perhitungan ROE dari laporan keuangan 2005-2009 menunjukkan 0,2559 (2005), 0,2025 (2006), 0,2604 (2007), 0,2390 (2008), 0,2757 (2009). Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, ROE menggambarkan grafik yang berfluktuatif. Sebagai contoh, tahun 2005-2006 mengalami penurunan, karena telah terjadi penurunan laba bersih dan perusahaan yang bersangkutan. Selanjutnya penurunan tersebut akan menyebabkan penurunan harga saham. Contoh ke-2, dari tahun 2008-8009 terjadi kenaikan rasio, karena telah terjadi kenaikan laba bersih dan perusahaan yang bersangkutan. Selanjutnya, kenaikan tersebut akan menyebabkan kenaikan harga saham perusahaan.
e. Return on Asset (ROA)
Mengukur bagaimana efisiensi dalam pengelolaan asset-asetnya untuk menghasilkan pendapatan. Semakin tinggi ROA, semakin baik karena berarti perusahaan menghasilkan lebih banyak pendapatan (http://caloninvestor.wordpress.com/laporan-analisis-laporan-keuangan-primarindo-asia-infrastructure-tbk/). Hasil perhitungan ROA dari laporan keuangan 2005-2009 menunjukkan 0,0988 (2005), 0,0827 (2006), 0,1148 (2007), 0,1164 (2008), 0,1564 (2009). Berdasarkan perhitungan dari tahun 2005-2009, ROA menunjukkan grafik yang berfluktuatif. Dari tahun 2005-2006 terjadi penurunan, dikarenakan efektivitas perusahaan untuk mendapatkan laba dengan semua asset yang dimiliki tidak efektif. Namun, dari tahun 2007-2009 mengalami kenaikan, dikarenakan kondisi perusahaan perode tersebut membaik yang berarti nilai laba bersih yang dihasilkan dari seluruh asset bertambah.
f. Time Interest Earned Ratio
Rasio untuk mengukur seberapa besar keuntungan dapat berkurang (turun) tanpa mengakibatkan adanya kesulitan keuangan, karena perusahaan tidak mampu membayar bunga (renirana.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/.../ALK+BAB+II.pdf ). Hasil Perhitungan dari laporan keuangan 2005-2009, adalah 8,0397 (2005), 3,3524 (2006), 5,7724 (2007), 14,6888 (2008), 27,4252 (2009). Berdasarkan perhitungan tersebut, terjadi penurunan dari tahun 2005-2006 dimana kemampuan perusahaan untuk membayar beban bunga menurun. Ini disebabkan oleh laba operasi yang didapat perusahaan belum dapat menutupi beban bunga perusahaan. Tahun 2007 perusahaan mengalami peningkatan yang berarti, karena perusahaan mendapat laba operasi yang lebih besar dibandingkan peningkatan beban bunga perusahaan. Peningkatan grafik ini dilanjutkan dari tahun 2008-2009 dengan puncaknya mencapai nilai 27,4252.
g. Earnings Per Share
Menandakan jumlah laba ditahan yang dimiliki perusahaan tersebut. Semakin besar nilainya, maka semakin bagus keuangan perusahaan (http://kelbursaefek.files.wordpress.com/2009/09/tugas-1-manajemen-keuangan1.pdf). Hasil perhitungan dari laporan keuangan tahun 2005-2009, adalah 368 (2005), 326 (2006), 524 (2007), 884 (2008), 1.147 (2009). Berdasarkan perhitungan tersebut nilai EPS yang terbesar terdapat pada tahun 2009. Sempat mengalami penurunan dari tahun 2005-2006, yaitu sebesar 42. Namun selama kurun waktu 3 tahun kemudian, perusahaan mengalami keuntungan dan menunjukkan hasil yang positif.
h. Dividend Per Share
Dividen saham hanyalah merupakan pembayaran saham tambahan saham biasa pada pemegang saham (http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH01ca.dir/doc.pdf). Hasil perhitungan dari laporang keuangan tahun 2005-2009, adalah 110 (2005), 130 (2006), 210 (2007), 320 (2008), 460 (2009). Berdasarkan perhitungan tersebut nilai DPS yang terbesar terdapat pada tahun 2009. Artinya, pada tahun 2009 nilai perolehan laba bersih perusahaan bertambah, sehingga mengakibatkan keuntungan yang diperoleh dari investasi di perusahaan tersebut besar.
i. Dividend Payout Ratio
Merupakan indikasi atas persentase jumlah pendapatan yang diperoleh yang didistribusikan kepada pemilik atau pemegang saham dalam bentuk kas. DPR ini ditentukan perusahaan untuk membayar dividen kepada para pemegang saham setiap tahun, penentuan DPR berdasarkan besar kecilnya laba setelah pajak (ppa.fe.unpad.ac.id/uploads/files/wp-acc18.pdf). Hasil perhitungan laporan keuangan tahun 2005-2009, adalah 0,2989 (2005), 0,3988 (2006), 0,4008 (2007), 0,3620 (2008), 0,4010 (2009). Berdasarkan perhitungan tersebut, perusahaan tetap memperoleh laba yang tinggi, namun posisi kas menunjukkan keadaan yang tidak begitu baik (DPS kurang dari 1). Sebagian dana masih tertahan dalam aktiva tetap dan modal kerja, sehingga pembayaran dividen pun sangat terbatas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar