
Dari data ringkasan laporan keuangan kita dapat menganalisis kinerja keuangan perusahaan secara keseluruhan terhadap harga saham yang beredar di dalam pasar saham. Perhitungannya dapat dilakukan dengan bantuan beberapa alat perhitungan antara lain :
• EPS = Keuntungan Bersih : Jumlah Saham Beredar
• P/E Ratio = Harga Saham : EPS
• PB/V Ratio = Harga Saham : (Total Harta - Total Hutang)
Hasil Perhitungannya :
Dari alat perhitungan di atas, kita dapat mengetahui dan menganalisa keterkaitan antara harga saham dengan kinerja keuangan secara keseluruhan. Dengan EPS kita dapat mengetahui Keuntungan bersih perusahaan terhadap jumlah saham yang beredar. Kemudian dengan P/E Ratio kita dapat menganalisis Jumlah harga saham terhadap EPS, dan dengan PB/V Ratio kita dapat menghitung Harga saham yang beredar terhadap Total Harta dikurangi dengan Total hutang kita.
Dari perhitungan EPS di atas kita dapat mengetahui bahwa pada tahun 2005 perusahaan mendapatkan pendapatan per lembar saham sebesar Rp 368. Akan tetapi kemudian mengalami penurunan pada tahun berikutnya (2006) menjadi RP 326 per lembar saham, hal ini dipengaruhi juga oleh berkurangnya laba perusahaan secara keseluruhan sehingga pendapatan per lembar sahamnya pun ikut berkurang. Kemudian mulai tahun 2007 hingga tahun 2009 perusahaan dapat memperbaiki kinerja keuangannya secara keseluruhan sehingga dapat meningkatkan pendapatan labanya dan hal ini secara langsung meningkatkan pula harga per lembar saham menjadai Rp 524 pada tahun 2007, kemudian menjadi Rp 884 pada tahun 2008, dan kembali meningkat pada tahun 2009 menjadi Rp 1.147 per lembarnya.
Lalu jika dilihat dari perhitungan P/E Rationya maka dapat diketahui bahwa perhitungan P/E Ratio selalu mengalami kenaikan dari tahun 2005 ke tahun 2006, hal ini disebabkan karena jumlah proporsi EPS-nya lebih tinggi dibandingkan dengan proporsi harga saham perusahaan yang beredar. Sedangkan pada tahun 2006 hingga tahun 2009 grafiknya menunjukkan penurunan secara bertahap , hal ini disebabkan oleh proporsi angka EPS perusahaannya lebih kecil dibandingkan dengan proporsi harga saham secara rata-rata perusahaan walaupun jika kita perhatikan angka EPSnya pun hamper selalu meningkat dari tahun ke tahun namun hal itu dapat ditutupi dengan peningkatan yang lebih signifikan pada aspek harga saham yang beredar.
Kemudian jika kita menghitung dengan alat penrhitungan berupa PB/V Ratio maka akan ditemukan bahwa nilai PB/V Ratio pada tahun 2005 meningkat hingga tahun 2007 namun kemudian menurun hingga tahun 2009. Peningkatan nilai PB/V Ratio dikarenakan proporsi harga saham perusahaan lebih banyak dibandingkan dengan proporsi nilai total harta dikurangi nilai total hutang, sedangkan penurunan nilai PB/V Ratio dikarenakan proporsi harga saham perusahaan yang beredar lebih kecil dibandingkan dengan proporsi nilai total harta dikurangi nilai total hutang perusahaan.
Maka dari ketiga alat perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa EPS dan P/E Ratio memiliki hasil perhitungan yang berbanding terbalik untuk mengetahui hubungan harga saham dengan kinerja keuangan perusahaannya, sedangkan perhitungan PB/V ratio hasilnya akan sangat tergantung oleh proporsi nilai total harta dikurangi nilai total hutang perusahaan.
NB : Jika data tidak terlihat dengan jelas dapat dibuka dengan meng-klik gambar tabel data tsb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar